Pembelajaran jarak jauh merupakan istilah yang marak
digaungkan oleh praktisi dalam bidang pendidikan akhir-akhir ini. Hal ini
dipengaruhi oleh kondisi negara yang tengah berjuang menghadapi pandemic covid 19. Pendidikan adalah salah satu
bidang yang paling kelihatan terkena dampak dalam pelaksanaannya. Proses belajar
mengajar yang tadinya dilaksanakan di Sekolah kini berpindah tempat menjadi di
rumah dengan memanfaatkan teknologi komunikasi.
Tenaga pendidik (guru) dan murid melakukan penyesuaian
pembelajaran dengan pemanfaatan teknologi komunikasi. Teknologi komunikasi ini
tentunya mesti didukung oleh ketersediaan Personal Computer (PC) atau Telepon
Pintar (Smart Phone ) serta jaringan dan
kemampuan menggunakan teknolgi tersebut. Lebih lanjut untuk Pembelajaran Jarak
Jauh sendiri perlu ada pengawasan dari Orang Tua yang terkadang menjadi
boomerang tersendiri bagi orang tua untuk mengeluh mengenai keadaan tersebut.
Model Pembelajaran
Pendidikan Jasmani
Diskusi sembari Ngopi bersama teman-teman pendidik Mata
Pelajaran Pendidikan Jasmani di beberapa sekolah menghasilkan beberapa keluhan
yang tentu masih dalam proses pencarian solusi. Pembelajaran daring yang
dilakukan oleh para pendidik menggunakan beberapa aplikasi seperti Zoom, Google Meet, Google Classroom, dan WhatsApp. Segala jurus pembelajaran jarak
jauh dilakukan untuk merealisasikan kandungan yang terdapat dalam Silabus dan
Rencana Pembelajaran sehingga tercapai Tujuan Pembelajaran.
Pendidikan Jasmani sendiri dalam pelaksanaannya tetap
mengikuti penilaian untuk rana Afektif (sikap), Kognitif (pengetahuan) dan
Psikomotorik ( Gerak). Berdasar dari rana tersebut maka setiap guru wajib
mengumpulkan nilai-nalai siswa untuk ketiga aspek ini. Proses belajar mengajar
klasikal (pertemuan fisik) tidak menemukan masalah dalam pengambilan
nilai-nilai tersebut namun lain hal jika pembelajaran daring. Salah satu
kendalanya misal untuk nilai Psikomotor siswa bisa dilihat dari video praktik
gerakan tertentu yang dilakukan oleh siswa. Beberapa orang tua mengeluh untuk
membantu anaknya dalam hal pengambilan video. Nilai afektif lain lagi ceritanya
karena afektif mendapat porsi lebih besar dalam Penjas dan seringnya
penilaiannya dilihat pada proses melakukan aktivitas fisik tertentu. Nilai Afektif
dapat dilihat pada prilaku kepemimpinan, kesopanan, kejujuran dan masih banyak
lagi terkait karakter unggul. Nilai Kognitif sendiri diperoleh dari pengetahuan
murid yang biasanya dilihat dari seberapa banyak yang diketahui mengenai materi
yang dipelajari.

Gambar 1: Latihan Fisik di Pagi Hari
Sumber : TribunNews.com
Pembelajaran Jarak
Jauh dan Pendidikan Jasmani
Esensi dari pembelajaran Pendidikan Jasmani yaitu gerak dan gembira yang berimplikasi
pada kebugaran jasmani, Hal ini kemudian yang dipandang perlu menjadi pijkan
para Guru Pendidikan Jasmani dalam melaksanakan pembelajaran walaupun dengan
konsep daring. Para pendidik mungkin akan kebingungan untuk memenuhi tuntutan
kurikulum dengan menggunakan konsep pendidikan Jarak Jauh dengan berbagai
keterbatasan.
Sebenarnya dalam keadaan pandemi ini, pendidikan jasmani
mengambil porsi dan peran tersendiri. Berdasar dari kondisi kekinian rasanya
tidak keliru jika seluruh masyarakat dianjurkan untuk meningkatkan imunitas
(daya tahan tubuh) dengan melakukan kiat-kiat tertentu. Senada dengan hal
tersebut peneliti olahraga Hari Yuliarto (2008) berpendapat bahwa Latihan
ringan sekalipun seperti aerobik 30 menit mampun mengaktifkan kerja sel darah
putih yang merupakan komponen utama kekebalan tubuh pada sirkulasi darah. Lebih
lanjut akan sangat baik dengan mengonsumsi makanan bergizi.
Pendidikan Jasmani seharusnya muncul dalam bentuk kampanye
aktif guru-guru kepada murid dan orang tua murid untuk melakukan aktivitas
fisik. Kalau boleh saran para pendidik sebaiknya melakukan manuver dan
berkreasi agar aktivitas fisik ini bukan lagi dipandang olah para murid dan
orang tua murid sebagai suatu bidang pelajaran melainkan lebih kepada KEBUTUHAN
ditengah menghadapi pandemi

Gambar 2 : aktivitas aerobik : jogging
Sumber : Merdeka.Com
Keliru jika memandang Pendidikan Jasmani ditengah pandemi ini
dibuat terlalu tekstual yaitu murid perlu menghafal beberapa cabang olahraga, teknik
dasarnya dan sebagainya. Kenapa tidak kita sebagai pendidik kembali ke esensi
Pendidikan Jasmani yaitu bagaimana mengajak siswa sadar untuk beraktivitas
fisik secara teratur.
Pendidikan jasmani perlu disederhanakan dalam menghadapi pandemi
ini, yaitu jika Siswa mau Berolahraga teratur setiap pagi maka selesailah Tugas
Dasar Guru Pendidikan Jasamani. Sederhana memang tapi saat ini bukankah kita
mesti kembali ke kondisi tersebut?
Comments
Post a Comment