FULL DAY SCHOOL YANG MATECOLLI

FULL DAY SCHOOL YANG MATECOLLI
            Kebijakan baru dari seorang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, weitsss jangan salah, bukan Bapak Anis Baswedan loh, tapi Bapak Muhadjir Effendi. Kebijakan ini tidak lain Full Day School yang dalam defenisi sederhananya itu para anak sekolah melakukan kegiatan pembelajaran disekolah dari sekitar pukul 7.30 Pagi hingga Pukul 17.00. its amazing, right? Sontak banyak komentar dari berbagai pihak, ada yang pro ada juga yang kontra. Salah satu alasan mengeluarkan kebijakan ini yaitu faktor kesibukan orang tua murid yang beraktivitas hingga sore hari seringkali mengabaikan tanggung jawab dalam mengawasi anak-anak mereka, untuk beberapa orang tua sih sehingga tanggung jawab memperhatikan anak pun diserahkan kepada guru dengan adanya sistem ini. Mendapat berbagai kritikan dari masyarakat membuat kebijakan ini dalam bahasa bugis diistilahkan  “Mate colli” atau dalam bahasa Indonesia nya Mati sebelum berkembang,
            Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pernah melihat salah satu Sekolah Menengah Atas di Kota Makassar ada yang menerapkan Sistem FDS ini. Kaget juga melihat jadwal proses belajar mengajar sampai sore hari. Kalau boleh berpendapat sih saya juga tidak setuju dengan adanya sistem Full Day School ini. Setiap anak dalam hal belajar memiliki daya kosentrasi tertentu. Bayangkan bila dari pagi hari hngga sore hari aktivitas nya mendengarkan guru menjelaskan mengenai pelajaran, berat cooyy, ada sihhh istirahat tapi hanya beberapa menit. Siswa juga membutuhkan aktivitas yang tidak kalah pentingnya dengan aktivitas belajar di sekolah. Setiap murid juga membutuhkan aktivitas seni, olahraga, ataupun aktivitas pengembangan diri lainnya yang dilakukan di luar sekolah. Setiap anak juga berhak memilih berbagai aktivitas pengembangan diri nya, bukannya dikekang dalam sekolah.
            Dalam dunia pendidikan, selain tujuan mencerdaskan anak dari segi ilmu pengetahuan nya, perlu juga mencerdaskan dalam segi etika dan moral. Dalam mencapai tujuan pembelajaran ini bukan hanya menjadi tanggung jawab Guru di sekolah melainkan Orang tua juga memegang peranan yang amat penting dalam mengamati perkembangan siswa. Bukankah Lingkungan Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam mempengaruhi perkembangan seorang anak. Maka dari itu Lingkungan Keluarga dan Lingkungan Sekolah tidak boleh terjadi tumpang tindih. Bagaimana mungkin para murid akan melek terhadap lingkungan Sosial yaitu keadaan yang terjadi dalam masyarakat apabila aktivitas nya dihabiskan di Sekolah hingga sore hari dan pada malam hari sampe pagi hari terkurung di rumah.
            Kalau boleh bertanya, pernahkah pencetus sistem ini berpikir, apa yang akan terjadi dengan para bibit-bibit atlet, musisi, aktivis sosial, yang notabene nya kemampuan ini lebih banyak dikembangkan di luar sekolah. Pendapat saya ini mungkin agak offensive dimana kalau boleh berpendapat Kemampuan yang dibentuk di sekolah itu merupakan dasar, sedangkan dalam masyarakat dituntut kemampuan yang lebih aplikatif, salah satu contoh nya dalam hal pembelajaran Penjasorkes,sependek pemahaman saya tujuan pembelajarannya tidak muluk-muluk yang penting murid nya sehat dan bugar (we are talking about essential) sedangkan tuntutan dari lingkungan masyarakat itu mintanya sekolah bisa menelurkan seorang atlit berbakat di berbagai cabang olahraga, Nah loh, sudah pasti untuk jadi atlit seorang murid perlu latihan tambahan yang diperoleh dari aktivitas diluar sekolah. Masih banyak contoh yang belum sempat saya utaraka.

            Seyogyanya sekolah perlu memperhatikan aspek individualistis dalam melihat keberminatan yang akan mempengaruhi masa depan siswa-siswi nya. Bukan masalah seberapa lama aktivitas pembelajaran, tetapi seberapa berkualitasnya aktvitas pembelajaran tersebut. Sekiranya kebijakan Full Day School ini perlu dikaji lagi mengingat Negara Tetangga Finlandia dengan sistem pendidikan nya yang tidak menghabiskan banyak waktu bisa bertengger sebagai sistem pendidkan terbaik di dunia

Comments