Selamat
tinggal PIRLA
Selamat
Datang Café
Apa
yang akan terlintas dipikiran kita jika menyebut kata PIRLA? Yah, betul sekali,
Pinggir Lapangan, dua suku kata yang menggambarkan pemandangan para pedagang
minuman dan makanan ringan yang berjejer memutari Pinggir lapangan Merdeka
Kabupaten Bone. Konsep perdagangan yang sangat
sederhana in menawarkan aneka makanan dan minuman yang terbilang sangat
terjangkau yaitu berkisar Rp 5000 hingga Rp 10000. Lokasi nya sangat strategis
yaitu berada di pusat keramaian kabupaten Bone dan didukung dengan pepohonan
yang besar dan rindang yang sangat nyaman sebagai tempat nongkrong di siang
hari. Daya tarik seperti inilah yang kemudian mengajak para pedagang untuk
berjualan di Pinggir Lapangan Merdeka tersebut dan menjadi daya tarik luar
biasa bagi para konsumen untuk duduk atau nongkrong.
Potret
keadaan diatas tidak dapat lagi kita temukan apabila berkunjung di kabupaten
Bone semenjak pemugaran Lapangan Merdeka. Pembangunan kembali Lapangan Merdeka
ini menyebabkan relokasi para pedagang ke Pinggir Sungai yang membuat
Pemerintah Kabupaten Bone menggelontorkan sejumlah anggaran pembangunan kanal
tersebut. jadilah PIRLA (Pinggir Lapangan) berubah ke PIRSU (Pinggiran Sungai).
Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah relokasi pedagang ini juga dapat
merelokasi para konsumennya? Silahkan kunjungi PIRSU yang terletak yang
melintasi jalan…., untuk menjawab pertanyaan ini. Konsumen yang berkisar 300 an
orang per hari nya pada saat di PIRLA kini dapat diistilahkan “dihitung jari”
semenjak pemidahannya menjadi PIRSU.
Mayoritas
konsumen kini berpindah dan lebih memilih untuk nongkrong di berbagai Café yang
terdapat di Kabupaten Bone. Jika dikaji lebih jauh, siapa yang diuntungkan?
Keuntungan akan diperoleh para pemilik modal kelas menengah ke atas. Kok Bisa?
Penjelasan sederhananya seperti ini , untuk membuka sebuah Café kurang lebih
dana yang digunakan sebesar 200 juta, bahkan ada yang sampai milyaran rupiah
yang notabenenya dana sebanyak ini hanya dimiliki oleh kelas menengah ke atas
yang tidak mungkin bersaing dengan para pedagang dengan modal 10 jutaan yang
terdapat di PIRSU Bergesernya para konsumen ke café-café tersebut berdampak
kepada sangat kurangnya lagi yang mau nongkrong di PIRSU yang kebetulan memang
tidak ada daya tarik pada tempat tersebut dibandingkan dengan suasana café yang
menunya masih terjangkau tapi kursi dan suasana dalam ruangan nya agak nyaman. Jika
berlarut maka para pedagang di PIRSU akan gulung tikar. Jika terdapat dampak
seperti ini, muncullah pertanyaan, apa dan siapa penyebabnya?
Keadaan
seperti ini akan sangat berbeda jika ada tempat nongkrong yang daya tariknya
menyaingi PIRLA yang sudah tiada. Tempat nongkrong PIRLA sangat membawa
keuntungan bagi para pedangang yang hanya memiliki modal kecil untuk
mendapatkan keuntungan yang relatif banyak. Keputusan untuk menata kota dan
membangun kembali Lapangan Merdeka merupakan keputusan yang sangat baik, akan
tetapi nasib dari para pedagang yang mencari rezeki ditempat ini juga merupakan
tanggung jawab dari pemerintah untuk merelokasi ke tempat yang kualitasnya
setara dengan Pinggir Lapangan Merdeka. Secara tidak sadar PIRLA hadir sebagai
FoodCourt nya masyarakat Bone.
Menjadi
tanggung jawab bersama bagi para pemuda yang kaya akan konsep dan pemerintah
untuk menghadirkan tempat dimana para pedagang makanan dan minuman dengan modal
yang murah untuk berjualan kembali dengan memindahkan Konsep PIRSU (Pinggiran
Sungai) ke tempat lain. Untuk menjadi pertimbangan kepada pihak terkait, Bone
memiliki banyak lahan yang potensial seperti Pasar Sentral yang sudah tidak
digunakan lagi bisa saja disulap seperti suasana Pasar Segar di Makassar.
Sekiranya kebijakan ekonomi dapat menumbuhkan potensi perputaran keuangan untuk
pedagang yang memiliki modal kecil juga yang nantinya berimbas kepada pemberdayaan
masyarakat dalam hal memilih pekerjaan bukan hanya untuk menjadi PNS melainkan
menjadi seorang entrepreneur-enterpreneur muda.
Comments
Post a Comment