Kabar mengenai merebaknya pandemik Covid-19 di Indonesia menyebabkan berbagai aktivitas berubah secara drastis. Perubahan ini terlihat dari beberapa kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah di awal maret 2020. Kebijakan tersebut berupa meliburkan peserta didik dari aktivitas di sekolah, meliburkan beberapa pekerja dan membatasi beberapa kegiatan. Terdapat beberapa istilah yang lahir dari kebijakan ini seperti Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, membatasi Jarak dan lain sebagainya. Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan banyak mengambil keputusan yang dianggap menguntungkan peserta didik diantaranya adalah meniadakan Ujian Nasional sebagai bahan pertimbangan untuk kelulusan peserta didik. Hal ini tentunya akan berimplikasi terhadap dunia pendidikan ke depannya.
Pandemi Covid 19 menyebabkan banyak perubahan diberbagai bidang kehidupan yang salah satunya adalah dunia pendidikan di Indonesia. Pemandangan yang terjadi bisa terlihat dimana para siswa diajak untuk dapat belajar dari rumah dengan memanfaatkan teknologi Informasi. Bersamaan dengan hal tersebut para pendidik dirangsang pula untuk mengembangkan dan menerapkan sistem pendidikan jarak jauh yang sering diistilahkan Pembelajaran abad 21. Pembelajaran abad 21 ini merupakan sistem pembelajaran yang sejak pemberlakuan kurikulum 2013 sering dikumandangkan dalam pelatihan pendidik. Pelatihan pendidik (guru) yang dimaksud salah satunya adalah Pendidikan Profesionalisme Guru. Diskusi mengenai pembelajaran jarak jauh saat ini memang muncul sebagai model pembelajaran yang sangat dibutuhkan. Kebutuhan akan pendidikan jarak jauh seperti ini tentunya perlu didukung oleh ketersediaan fasilitas yang memadai seperti perangkat keras berupa smartphone atau Personal Computer dan perangkat lunak seperti jaringan Internet. Senada dengan hal tersebut kemampuan pengguna dalam mengoperasikan Perangkat tersebut merupakan faktor utama untuk dapat melakukan pembelajaran jarak jauh.
Gambar 1 : Pembelajaran Jarak Jauh via Aplikasi Zoom
Sumber : Dokumen Pribadi
Pembelajaran jarak jauh memang telah beberapa tahun ini disosialisakan namun belum digunakan oleh para pendidik secara meyeluruh di Indonesia dikarenakan beberapa faktor baik dari sisi fasilitas maupun pengguna itu sendiri. Keadaan pandemi ini dapat dikatakan memaksa model pembelajaran ini berlaku secara massal di seluruh Indonesia. Guru dipaksa untuk berinovasi, muridpun dengan bantuan orang tua dipaksa untuk bisa mengikuti realisasi dari inovasi pembelajaran yang dilakukan oleh para guru. Akan tetapi berdasarkan realita dilapangan dapat dikatakan bahwa,
“Berdasarkan survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terhadap 1.700 siswa berbagai jenjang pendidikan pada 13-20 April 2020, sekitar 76,7 persen di antaranya mengaku tidak senang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hanya 23,3 persen responden yang menganggap PJJ mengesankan”.(Mediana: 2020)Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik memang belum mampu menyesuaikan diri dengan pembelajaran jarak jauh. Hal ini merupakan tantangan bagi model pembelajaran yang bermuara pada sistem pendidikan kedepannya
Interaksi Belajar Mengajar Pendidikan Jasmani
Proses pembelajaran dalam dunia pendidikan tidak dapat terlepas dari Interaksi. Interaksi edukatif diartikan sebagai hubungan yang terjadi secara sadar memiliki tujuan pembelajaran (Sardiman: 2014). Senada dengan hal tersebut Interaksi belajar mengajar Pendidikan Jasmani dapat diartikan sebagai komunikasi dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan Jasmani. Pendidikan jasmani merupakan salah satu bidang ilmu yang diajarkan sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pola pembelajaran pendidikan jasmani sedikit berbeda dengan yang lain dimana tujuan pembelajarannya agak dominan kearah Psikomotorik (gerak) maka pola pembelajarannya juga dominan mengarak ke aktivitas gerak.
Interaksi yang terjadi dalam pembelajaran pendidikan jasmani diperlihatkan dengan pembentukan formasi barisan dalam melakukan aktivitas gerak dan guru memperlihatkan contoh gerakan sebelum peserta didik melakukannya. Melakukan koreksi gerakan juga salah satu bagian interaksi dalam pembelajaran pendidikan jasmani dikarenakan unsur keamanan gerak merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan pembelajaran ini. Pembelajaran jarak jauh untuk bidang pendidikan jasmani merupakan tantangan tersendiri bagi para pendidik. Hal ini disebabkan pendidikan jasmani tidak hanya selesai dengan membaca beberapa teori melainkan lebih kepada melakukan gerakan-gerakan tertentu sesuai arahan dan petunjuk dari pendidik.
Pendekatan kreativitas dalam Pola pembelajaran gerak sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para pengembang start up dibidang olahraga. Salah satu aplikasi kreatif adalah Freeletics dengan menyajikan video-video gerakan yang dilakukan untuk kebugaran tubuh. Para pendidikan diharapkan mampu membuat video tutorial melakukan gerakan-gerakan dalam pembelajaran pendidikan jasmani sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran bagi peserta didik. Namunpun demikian bimbingan dan pantuan orang tua masih dipandang sangat penting dalam mengawasi peserta didik melakukan gerakan-gerakan tertentu.
Gambar 2 : Tampilan video di aplikasi Freeletics
Sumber : Apkpure.com
Interaksi yang diharapakan terjadi dalam pembelajaran yaitu dalam bentuk interaksi timbal balik antara pendidik dan peserta didik yang dipandang agak sulit jika berlangsung dalam pembelajaran jarak jauh. Tahap ini merupakan awal pendidikan jarak jauh dalam bidang pendidikan jasmani masih mencari bentuk tertentu yang kita masih samar bantuk yang baik seperti apa wujudnya beberapa tahun kedepan.
Pasca Pandemi Covid-19
Setelah pandemi covid 19 ini berakhir maka akan terjadi beberapa perubahan mencolok dalam dunia pendidikan. Beberapa perubahan tersebut diantaranya semakin disempurnakannya sistem pembelajaran jarak jauh baik dari segi perangkat kerasnya maupun perangkat lunaknya. Selain itu para pendidik maupun peserta didik akan terbiasa menggunakan pembelajaran jarak jauh yang awalnya hanya kajian berubah menjadi penerapan yang akan sering dilakukan. Teknologi pendidikan akan semakin cepat berkembang. Realita semacam ini hanya bisa dihadapi dengan sumber daya yang siap, terlebih kepada pendidik yang muncul sebagai subjek sentral dalam pendidikan. Sumber Daya Manusia di bidang pendidikan dipaksa berdamai dengan perubahan agar bisa bertahan dari status sebagai pendidik. Bukankah ini sudah termasuk Distrupsi dibidang pendidikan???


Comments
Post a Comment