Keberuntungan
yang luar biasa rasanya menjadi Dosen di Salah Satu Perguruan Tinggi Negeri di
Makassar walaupun masih dalam status CPNS. Tahun lalu tepatnya 2018 saya sempat
memosting tulisan saya di Blog ini juga sebagai ungkapan kebanggaan menjadi
Dosen LB (Luar Biasa) atau akrab sapaan nya Asisten Dosen. Ada beberapa hal
menarik selama beberapa Bulan (Januari- maret 2019) ini dalam proses
perkuliahan di Kampus.
Jurusan
Penjaskesrek FIK UNM merupakan Rahim Kemahasiswaan saya dibentuk. Jurusan ini
selalu membuat saya bangga apapun keadaannya ( namanya juga Jurusan Sendiri,
heheheh). Ada suatu momen yang unik dalam di Bulan ini (maret 2019) dimana
disela perkuliahan atau perpindahan jam perkuliaahan, saya memanfaatkan waktu
untuk sekedar Nongkrong dikantin untuk minum dan Makan Gorengan.
Kopi Susu
merupakan salah satu minuman kesukaan saya sebagai pengisi jam istirahat dan
kami biasa menyebutnya “Kopi Susu Daeng Sangi” karena pembuatnya bernama Daeng
Sangi yang berjualan di depan Kampus FIK UNM. Rasanya yang enak dan Harga yang
murah adalah alasan saya memilih Kopi Daeng Sangi. Dengan menyetor Lima Ribu Rupiah kita sudah bisa menikmati
kopi ini.
Gambar 1 : Ilustrasi Kopi Susu
Sore ini saya
mengunjungi salah satu Mall di Makassar yang terletak di Jalan Boulevard untuk
sekedar mencari buku. Beberapa menit
berjalan di Lantai Dasar saya bertemu dengan Salah satu Dosen Saya (Dosen
Senior) yang duduk di salah satu CoffeShop terkenal sedang duduk sambil merokok
dengan Segelas Sajian Kopi diatas Meja Beliau. Kulihat dan kudekati belaiu, “Sendirianki Puang (Sapaan hormat untuk lelaki
Bugis Bone)?” Tanyaku. Beliau menjawab “ Ie ndi’ (sapaan untuk lelaki yang
lebih muda), saya ngopi dulu , istirahat sambil tunggu jam selanjutnya untuk
masuk mengajar lagi”. Setelah berbincang sekitar 3 menit sayapun pamit untuk
melanjutkan perjalanan ke Lantai 3.
Gambar 2 : Kopi nya Dosenku
Kesan yang
saya tangkap adalah ternyata saya tidak salah, menunggu pergantian jam dengan
menikmati segelas kopi karena ternyata salah satu dosen favorit saya juga
melakukan hal tersebut, perbedaan nya adalah saya nyaman dengan Kopi Rp 5000
an, sedangkan beliau nyaman dengan Kopi sekitar Rp 57.000 an. Kopi itu bukan masalah harganya, tapi tentang
cara menikmatinya, hahahah ( quotes untuk pemuda yang belum bisa beli kopi Rp. 57.000
an) begitu kira-kira.


Comments
Post a Comment