Pendidikan
Jasmani, Menanamkan Karakter Melalui Gerak
gambar 1 : Peserta didik melakukan peregangan
Pendidikan
jasmani, kesehatan dan rekreasi merupakan salah satu mata pelajaran yang
diajarkan dalam jenjang pendidikan Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan
Sekolah Menengah Atas. Mata pelajaran yang didominasi oleh pembelajarkan di
luar ruangan ini pada awalnya bertujuan untuk mewujudkan peserta didik yang
sehat jasmani maupun rohani. Sehat jasmani dalam hal ini sering juga
diistilahkan dengan kebugaran. Konsep kebugaran ini ditanamkan kepada anak usia
sekolah agar dapat aktif mengikuti kegiatan pembelajaran tanpa adanya gangguan
kesehatan (sakit) yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang mengancam system kekebalan
tubuh. Kesederhanaan tuntutan Penjasorkes ini tidak menuntut kecerdasan yang
luar biasa untuk mendapatkan nilai yang tinggi melainkan hanya berbekal sehat
dan bugar disertai etika yang baik maka siswa mampu memperoleh nilai yang
tinggi.
Perkembangan
ilmu pengetahuan teknologi juga disertai perkembangan pendidikan jasmani, kesehatan
dan rekreasi. Penjasorkes yang pada awalnya mengarah kepada kebugaran sebagai
tujuan utama mengalami pergeseran interpretasi. Interpretasi yang dimaksud
adalah pendidikan jasmani lebih diartikan sebagai mendidik dengan menggunakan
gerak. Proses belajar mengajar dalam hal ini mengarah kedalam pembinaan
karakter tapi tidak dengan metode ceramah di ruangan melainkan menggunakan
gerak sebagai media untuk menanamkan karakter unggul kepada peserta didik. Pembelajaran
yang sering dilakukan oleh guru-guru penjaorkes seringnya mengarahkan bagaimana
para peserta didik menguasai suatu cabang olahraga tertentu yang diajarkan sesuai
dengan tuntutan RPP dan Silabus. Model seperti ini lebih mengarah kepada
pendidikan olahraga bukan kepada pendidikan jasmani walaupun keduanya
dipaketkan dalam suatu mata pelajaran.
gambar 2 : Peserta didik bersiap melakukan permainan ular tangga dalam pembelajaran penjas
Pendidikan
Jasmani, pendidikan olahraga dan pendidikan kesehatan merupakan tiga disiplin
ilmu yang berbeda namun dalam implementasi sangat mendukung satu sama lain. Tantangan
pendidikan di Indonesia saat ini menuntut adanya penanaman karakter yang lebih baik
kepada peserta didik. Jawaban dari tantangan ini akan lebih baik melalui
pendidikan jasmani sehingga porsi pengajaran pendidikan jasmani lebih banyak
dibandingkan pendidikan kesehatan dan pendidikan olahraga. Pendidikan kesehatan
bukan hanya diajarkan dalam mata pelajaran penjasorkes melainkan tugas dan
tanggung jawab program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang terdapat di setiap
sekolah. Pendidikan olahraga yang menekankan kepada perkembangan kebugaran dan
pengetahuan akan olahraga oleh para peserta didik diwujudkan dengan adanya
kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan di setiap sekolah. Tuntutan terhadap
peserta didik untuk ahli dalam suatu cabang olahraga tidak dapat dilakukan
karena kondisi fisik baik dari pertumbuhan dan perkembangan setiap anak
berbeda-beda. Setiap guru perlu merubah pola pikirnya terkait dengan
keterampilan berolahraga yang dibebankan pada pembelajaran Penjasorkes.
Pendidikan
jasmani sebaiknya muncul sebagai pembelajaran yang bersifat rekreatif yang
dikemas oleh setiap guru penjasorkes. Kemasan penjasorkes yang mampu mengajak
setiap siswa-siswi untuk aktif bergerak, senang dan memuat pendidikan karakter
didalamnya merupakan beban kerja yang dimiliki oleh Pendidik dalam mata
pelajaran ini. Peserta didik yang sudah terpengaruh dengan penggunaan Smartphone
akan susah diajak untuk dapat bergerak aktif sehingga guru penjas tentu akan
mengalami banyak kesulitan menghadapi tantangan seperti ini. Tantangan yang
begitu kompleks kemudian perlu dijawab oleh guru penjas itu sendiri. Kompleksifitas
dari masalah ini kemudian perlu dihadapi oleh setiap guru penjas dengan
memperkaya ilmu pengetahuan dalam hal pembelajaran gerak yang dapat membuat
senang peserta didik, aktif serta mengedepankan muatan-muatan pendidikan
karakter didalamnya. Model-model pembelajaran penjas juga perlu diperkaya oleh
setiap guru sehingga tidak hanya monoton menggunakan satu model yang cenderung
akan membosankan bagi peserta didik. Penjasorkes itu sifatnya rekreatif, jadi
ketika peserta didik mempelajari mata pelajaran ini, mereka seharusnya merasa
senang bergerak dengan tidak adanya tekanan dan tuntutan yang menjadi beban
pikiran.


Comments
Post a Comment