Sarjana,
Siap kerja Tidak???
Wisuda,
kata yang membuat para mahasiswa teriak kegirangan dan menangis terharu.
Perhelatan akbar ini digelar dalam rangka ceremonial pemindahan tali toga yang
tadinya berada disebelah kiri kemudian dipndahkan ke sebelah kanan. Hal ini
menandakan bahwa para mahasiswa telah siap untuk mengamalkan ilmunya kepada
kebaikan. Gelar sarjana sesuai bidang keilmuan yang ditekuni oleh mahasiswapun
akan terpasang di belakang nama mereka. Di satu sisi mahasiswa akan menjelma
menjadi wisudawan dan wisudawati namun di sisi lain para sarjana akan
menghadapi dunia realita yang sangat beda iklimnya dengan dunia kampus bahkan
di dunia setelah wisuda nanti idealisme para mahasiswa yang selalu
diagung-agungkan akan dipertanyakan sampai sejauh mana akan bertahan.
Setelah
menyelesaikan studi di perguruan tinggi, naif jika tidak ingin melanjutkan ke
hal-hal yang baru seperti melamar pekerjaan, melanjutkan studi ke jenjang yang
lebih tinggi atau menjadi seorang profesionalis pribadi. Dari titik inilah
kemudian para sarjana akan memperlihatkan bekal atau ilmu yang telah mereka
timbah selama mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Berbagai respon datang
kepada mereka, ada yang melamar pekerjaan langsung diterima, ada juga yang
ditolak sampai-sampai ada yang diterima kerja namun tidak sanggup mengemban
tanggung jawab yang dipercayakan. Tidak sedikit para sarjana yang kewalahan
untuk bekerja, hal ini dikarenakan bukan kesulitan mencari pekerjaannya tetapi
sebagian besar sulit memenuhi kriterian yang diinginkan oleh pihak penerima
pekerja tersebut. Jika diperhadapkan pada beberapa keadaan tersebut di atas
maka patutlah kita bertanya apakah para
sarjana siap untuk bekerja? Mampukah mereka memenuhi kriteria para penyedia
lapangan pekerjaan? Siapkah mereka menghadapi keadaan realitas yang sangat
berbeda dengan lingkungan keadaan kampus?
Beberapa
pertanyaan di atas memang dipandang perlu untuk di renungkan oleh berbagai
alumnus perguruan tinggi maupun mereka yang masih mengenyam pendidikan di
perguruan tinggi. Para mahasiswa saat mengikuti perkuliahan memang sangat aktif
berteori, sangat ingin meraih nilai dengan predikat “A” dengan kehadiran
mengikuti perkuliahan aktif yang mereka andalkan. Akhirnya stigma yang
berkembang hingga sekarang adalah aktif ikut perkuliahan, sering berkomentar,
mendapatkan nilai “A”, dan lulus dengan predikat Cumlaude. Sementara pihak
penyedia lapangan kerja dengan independennya menerima pegawai dengan kriteria
yang didasarkan oleh sikap sosial, keterampilan kerja maupun pengalaman kerja
dari pegawai yang akan direkrut. IPK tinggi pun hanya salah satu persyaratan
yang bukan merupakan prioritas utama. Hal ini jelas sangat berbeda dengan iklim
kampus yang sangat menjunjung tinggi nilai teori yang diajarkan. Melihat dai
hal tersebut sudah terjadi miskomunikasi sistem anatara pihak Perguruan Tinggi
yang notabenenya sebagai produsen pencetak tenaga kerja dengan pihak Industri
yang akan mempekerjakan tenaga kerja tersebut. Bagaimana dengan mahasiswa yang
bermalas-malasan, tidak aktif mengikuti perkuliahan maupun mencari pengalaman
kerja juga malas. Persaingan para alumnus tidak bisa dihindari karena banyaknya
sarjana yang di cetak namun wadah untuk menampung mereka semua untuk bekerja
tidak akan cukup. Seleksi merupakan salah satu jawaban pamungkas untuk
menjaring para sarjana yang ingin bekerja. Tidak mengherankan pula jika banyak
mahasiswa yang merasa belum cukup mengenyam pendidikan selama sekitar 4 tahun
justru menambah masa perkuliahan menjadi 5 hingga 7 tahun dengan prinsip bahwa
“percuma saya cepat selesai kuliah toh nantinya saya nganggur juga.” Hal ini menandakan bahwa mereka yang memiliki
prinsip seperti ini merasa bahwa mereka belum siap menghadapi dunia kerja
setelah mereka menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Kata yang paling membuat
galau para sarjana pun tidak lain ialah “PENGANGGURAN” yang mau tidak mau harus
mereka hadapi. Pengangguran memang akan melanda, tetapi yang perlu menjadi
pertanyaan besar adalah berapa lama seorang wisudawan atau wisudawati akan
mengakhiri masa menganggurnya.
Seyogyanya
para mahasiswa yang masih mengenyam pendidikan di perguruan tinggi perlu
menimbah ilmu di lain tempat seperti organisasi Internal kampus yang akan
memberikan pengalaman interaksi sosial maupun manajemen kepemimpinan. Bekerja
di Industri yang sesuai keahlian atau bidang ilmu yang digeluti juga
disarankan. Adanya iklim seperti ini diharapkan mampu mengeneralisir pola
adaptasi mahasiswa dari lingkungan kampus ke lingkungan kerja sehingga nantinya
setelah penyelesaian studi di perguruan tinggi alumnus pun siap untuk bekerja.
Pihak kampus sebagai salah satu produsen tenaga kerja terbesar dipandang perlu
untuk mengupdate sistem pendidikan nya melihat keperluan tenaga kerja kekinian
semakin kompleks dengan berbagai persyaratan dan kriteria terhadap calon tenaga
kerja yang diinginkan oleh Industri-Industri sehingga nantinya para sarjana
dapat menjawab “Ya, Saya siap untuk bekerja”.
Hezron Alhim Dos Santos
Comments
Post a Comment