SERTIFIKASI PENGONTROL
PROFESIONALISME
Mendengar kata sertifikasi ditahun 2014 ini bukan merupakan suatu kata yang asing
di telinga masyarakat, bahkan karena hal ini tidak sedikit masyarakat yang
mengidolakan profesi sebagai tenaga pendidik. Alasannya jelas, sertifikasi
merupakan suatu kebijakan pemerintah pusat yang diberikan kepada tanaga
pendidik yang tentunya perlu memenuhi syarat-syarat tertentu, dan memiliki
dampak terhadap pemberian tunjangan karena profesionalismenya sebanyak dua kali
lipat gaji pokok. Kebijakan ini tentunya sangat diapresiasi oleh mayoritas kaum
pendidik diseluruh Indonesia. Namun di sisi lain profesionalme seorang guru
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sangat dituntut dapat lebih
meningkat karena adanya kebijakan ini. Jika ditinjau secara logika, sebenarnya
hal ini memang patut memberikan manfaat yang signifikan terhadap peningkatan
kualitas kerja dari tenaga pendidik, tentunya dengan kalimat sederhana dapat di
katakan seperti ini “dengan pemberian
sertifikasi ini perekonomian dan kesejahteraan hidup guru meningkat, yang
tentunya membawa dampak positif dalam semangat bekerja dan dapat lebih
meningkatkan skill mendidik siswa-siswi dalam mencapai tujuan pendidikan
nasional”.
Berbicara mengenai profesionalisme
kerja sebenarnya memang perlu didukung oleh beberapa faktor, salah satunya
perekonomian namun tidak sepatutnya alasan perekonomian menjadi remot kontrol
kualitas kerja seseorang. Memang naïf untuk berpatokan terhadap pernyataan
tersebut di tengah era globalisasi yang hampir semua kebutuhan dapat terpenuhi
dengan uang. Akan tetapi jika ditinjau dari esensi menjadi seorang pendidik,
sasaran utamanya adalah bukan mencari keuntungan yang banyak dari mendidik,
melainkan bagaimana membentuk siswa-siswi yang cerdas, berkarakter unggul,
memiliki berbagai keterampilan dalam menghadapi kemajuan teknologi di zaman
mereka kedepannya. Tidak dapat dipungkiri salah satu sosok yang sangat berperan
penting untuk mempersiapkan generasi Bangsa Indonesia adalah tenaga pendidik
yang terdapat di sekolah baik Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah
Menengah Atas dan Perguruan Tinggi.
Pada tahun 2015 Indonesia
mencanangkan berlakunya pasar bebas yang membolehkan tenaga kerja dari luar
negeri dapat masuk ke Negara kita untuk bekerja, tentunya dengan skill dan
keterampilan yang mumpuni mereka dapat bersaing dengan tenaga kerja yang ada di
Indonesia. Pertanyaan mendasar adalah apakah sebagian besar siswa-siswi dan
mahasiswa di Indonesia yang akan menghadapi keadaan tersebut sudah disiapkan
dengan baik oleh pemerintah?. Pertanyaan ini tidak dapat dijawab oleh berbagai
pihak dengan segala komentar, tetapi yang dapat menjawab hal ini adalah para
tenaga pendidik yang mempersiapkan produk mereka di sekolah dan akan dibuktikan
pada saat produk (siswa-siswi dan mahasiswa) dalam memasuki pasar kerja baik
dalam negeri maupun luar negeri. Pelbagai usaha dan metode dalam mempersiapkan
siswa-siswi ini harus dikerahkan jika ingin mencapai tujuan tersebut.
Fenomena yang terjadi belakangan ini
banyak tenaga pendidik yang mengeluh terhadap kebijakan sertifikasi ini, bukan
karena tidak mau menerima sertifikasi tetapi ada berbagai alasan dimulai dari
repotnya pengurusan, sulitnya persyaratan yang harus dipenuhi, hingga
keterlambatan dalam proses pencairan. Bahkan baru-baru ini ada beberapa tenaga
kependidikan di salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang melakukan
demonstrasi dan melakukan mogok mengajar dikarenakan pencairan tunjangan
sertifikasi yang molor hingga 4 bulan. Inilah yang dimaksud oleh penulis bahwa
sertifikasi telah banyak mempengaruhi paradigma berpikir tenaga pendidik. Melihat
kejadian ini merupakan suatu renungan yang patut dipikirkan oleh berbagai pihak
yaitu bagaimana jadinya siswa-siswi di sekolah jika guru-guru mereka melakukan
mogok mengajar, lalu siapa yang akan mengajar?. Secara langsung maupun tidak
langsung sartifikasi banyak berpengaruh terhadap sistem belajar-mengajar di
sekolah. Tanpa disadari sertifikasi ini pun dapat di analogikan sebagai remot
yang mengontrol kualitas kerja tenaga pendidik. Jika sertifikasi lancar proses
belajar mengajar akan berlangsung dengan baik karena guru-guru sangat
bersemangat akan tetapi jika sertifikasi sempat tersendak dan molor bukan tidak
mungkin guru-guru menjadi tidak semangat sehingga akan berdampak pada proses
belajar mengajar yang tidak berjalan dengan baik.
Seyogyanya kejadian seperti ini tidak
perlu terjadi hingga separah itu, kembali lagi esensi dasar menjadi seorang
tenaga pendidik adalah menciptakan generasi penerus bangsa yang memiliki kecerdasan,
karakter unggul dan keterampilan yang mumpuni guna menghadapi pasar kerja di
era globalisasi. Tenaga pendidik diharapkan mampu mendidik murid dalam keadaan
apapun terlepas dari seberapa besar gaji, seberapa baiknya fasilitas maupun
wilayah geografis kota ataupun desa terpencil. Saya rasa untuk itulah seorang
tenaga pendidik perlu melewati bangku perkuliahan agar dirinya ditempa menjadi seorang
pendidik yang professional yang mampu menghadapi berbagai tantangan dalam
mendidik, kalau tidak demikian tentunya gelar Sarjana Pendidikan yang terpampang di belakang nama seorang tenaga
pendidik jelas patut dipertanyakan. Perekonomian yang baik memang diperlukan
tetapi jangan sampai karena pengaruh serifikasi ini menjadi pengontrol semangat
dan kualitas kerja seorang tenaga pendidik. Dari sisi idealitas memang seperti
inilah tantangan menjadi seorang tenaga pendidik, yang kualitas dalam
menjalankan profesinya dinilai bukan dari teknik mengajarnya melainkan seberapa
baik output atau murid-murid yang dihasilkan dapat sukses menghadapai zaman
globalisasi kedepannya. Ada dan tidaknya sertifikasi yang diperoleh jangan
sampai mengendurkan semangat mengajar dari tenaga pendidik melainkan berusaha
melakukan yang terbaik dan mencintai profesi sebagai tenaga pendidik merupakan
idealisme yang harus di junjung tinggi oleh guru-guru, sehingga degan prinsip
ini tenaga pendidik tentu diharapkan mampu memberikan subangsi yang sangat
besar guna mencapai tujuan Pendidikan Nasional yang intinya untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Comments
Post a Comment